Pekan Peduli Hepatitis B

PEKAN PEDULI HEPATITIS B

Hepatitis B dan Pencegahannya

       Virus Hepatitis B (VHB) merupakan penyakit infeksi utama dunia yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, meskipun saat ini sudah tersedia vaksin yang efektif dalam bentuk pengobatan antivirus. Secara global dari dua milyar orang yang sudah terinfeksi, lebih dari 350 juta jiwa telah terinfeksi VHB kronis yang menyebabkan 1-2 juta jiwa kematian setiap tahun karena kanker hati. Infeksi VHB bervariasi menurut geografi, prevalensi VHB kronis mulai dari 1,2% sampai dengan 20%. Sekitar 40% dari populasi yang tinggal di daerah endemik, seperti Afrika dan Asia Pasifik (tidak termasuk Jepang, Australia dan New Zealand).

       World Health Organization (WHO) memperkirakan lebih 2 milyar penduduk dunia telah terinfeksi virus hepatitis B, dimana 378 juta atau 4,8% terinfeksi yang bersifat carier kronis dengan angka kematian 620,000 jiwa setiap tahun. Lebih dari 4,5 juta kasus infeksi baru virus hepatitis B terjadi setiap tahun, dan ¼ dari kejadian kasus tersebut berkembang menjadi penyakit hati sirosis hepatis dan karsinoma hepatoseluler primer.

       Berdasarkan tingginya prevalensi infeksi VHB, World Health Organization (WHO) membagi menjadi 3 macam daerah endemis yaitu: tinggi (10-15%), sedang (8%) dan rendah (5%). Sedangkan prevalensi VHB di negara-negara berkembang Indonesia (10%), Malaysia (5,3%), Brunai (6,1%), Thailand (8%-10%), Filipina (3,4%-7%). Berdasarkan data WHO (2008) penyakit Hepatitis B menjadi pembunuh nomor 10 di dunia dan endemis di China dan bagian lain di Asia termasuk Indonesia. Dua milyar penduduk dunia pernah terinfeksi oleh virus Hepatitis B, 400 juta jiwa pengidap Hepatitis kronik dan 250.000 orang setiap tahun meninggal akibat sirosis hati dan kanker hati, 170 juta penduduk dunia pengidap virus Hepatitis C (HVC) dan 350.000 orang meninggal akibat komplikasi dari Hepatitis C.

       Menurut Internasional Task Force on Hepatitis-B Immunization, Indonesia termasuk dalam kelompok endemis sedang dan tinggi hepatitis B, dengan prevalensi di populasi 7% -10%. Setidaknya 3,9% ibu hamil Indonesia merupakan pengidap hepatitis dengan risiko penularan maternal kurang lebih 45%. Saat ini di perkirakan terdapat lebih dari 11

juta pengidap penyakit Hepatitis-B di Indonesia. Di negara dengan prevalensi hepatitis B rendah sebagian besar pengidap berusia 20-40 tahun, sedangkan di negara dengan prevalensi hepatitis B tinggi sebagian besar pengidap merupakan anak-anak.

       Risiko terjadinya hepatitis B kronis jauh lebih besar (90%) bila infeksi terjadi pada awal kehidupan dibandingkan dengan infeksi yang terjadi pada usia dewasa. Sementara infeksi pada masa dewasa muda biasanya menimbulkan hepatitis yang akut secara klinis tetapi risiko menjadi kronik hanya 1% – 2 %.Transmisi vertikal tergantung dari umur kehamilan saat terinfeksi. Infeksi pada dua trimester pertama berisiko sebesar 8% – 10% dan meningkat secara bermakna pada trimester ketiga kehamilan sebesar 67%.

       Masa inkubasi dari penyakit hepatitis B berkisar antara 45-180 hari dan lama masa inkubasi tergantung pada jumlah virus yang masuk ke dalam tubuh dan cara penularan serta daya tahan pasien. Penyakit ini sering dijumpai pada 30-50% pada usia diatas 50 tahun dan 10% pada usia dibawah 50 tahun. Keluhan pada penyakit hepatitis B antara lain mual, tidak nafsu makan, lemas, muntah, nyeri pada otot dan sendi, demam, kencing berwarna cokelat tua dan kulit berwarna kuning. Kebanyakan kasus dengan infeksi hepatitis B akan sembuh dalam jangka waktu 6 bulan dan mengalami kekebalan. Dimana 15-20% akan menjadi hepaitits kronik atau penyakit hati menahun yang kemudian menjadi hepatitis kronik atau penyakit hati menahun yang kemudian menjadi sirosis hati dan berkembang menjadi kanker hati.

       Penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus hepatitis B (VHB) sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan dunia, karena dapat mengakibatkan penyakit hati serius mulai dari hepatitis fulminan sampai karsinoma hepatoselular. Diperkirakan sekitar 2 miliar penduduk dunia pernah terinfeksi virus hepatitis B, dan 360 juta orang sebagai pengidap (carier) HbsAg dan 220 juta (78%) diantaranya terdapat di Asia. Lima ratus ribu hingga 750 ribu orang diduga akan meninggal karena sirosis hepatis atau berkembang menjadi kanker hati.

       Angka kejadian (prevalensi) hepatitis B kronik di Indonesia mencapai hingga 5-10 % dari total penduduk, atau setara dengan 13,5 juta penderita. Jumlah ini membuat Indonesia termasuk daerah endemis sedang sampai tinggi (3-17%), dan menjadi negara ke 3 Asia yang penderita hepatitis B kroniknya paling banyak. Vaksinasi merupakan strategi paling efektif dan aman untuk mengendalikan serta eradikasi infeksi VHB. Indonesia telah melaksanakan pemberian vaksinasi hepatitis B secara rutin dalam Program Pengembangan Imunisasi (PPI) sejak tahun 1992.

       Berbagai cara telah digunakan untuk memotong rantai penularan dalam upaya menurunkan insidens infeksi VHB. Pencegahan penularan parenteral yang terpenting adalah  HbsAg pada darah pratransfusi, sterilisasi alat kedokteransecara virusidal, dan prinsip penggunaan satu alat steril untuk satu orang pada tindakan parental. Pada saat ini telah tersedia vaksin Hepatitis B yang immunogenik baik yang berasal dari plasma maupun yang dibuat dengan rekayasa genetika.

       Untuk mencegah terjadinya infeksi pada individu setelah terjadi kontak dengan VHB, diberikan gabungan imunisasi aktif menggunakan vaksin dan imunisasi pasif menggunakan HBIG (postexposure immunization). Secara umum program imunisasi Hepatitis B bertujuan menurunkan angka kematian yang disebabkan oleh infeksi VHB dan akibat lanjut darinya, dengan memberi kekebalan kepada bayi sedini mungkin.

Daftar Pustaka

Kusumawati, Laila, dkk,. 2007. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemberian Imunisasi Hepatitis B 0-7 Hari. Vol. 23, No. 1. Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie, Nanggroe Aceh Darussalam.

Rosalina, Ina. 2012. Hubungan Polimorfisme Gen Tlr 9 (Rs5743836) Dan Tlr 2 (Rs3804099 Dan Rs3804100) Dengan Pembentukan Anti-Hbs Pada Anak Pascavaksinasi Hepatitis B. Vol. 2 Nomor 3. Universitas Padjadjaran

Rasmaliah. 2005. Infeksi Virus Hepatitis B dan pencegahannya. Staf Pengajar Pendidikan Epidemiologi. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/48318/5/chapter%201.pdf

Repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/38097/5/chapter%201.pdf

Suharji, B. 2010. Hepatitis B. Yogyakarta: Kanisius

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *