NUTRITION COMPETITION 2017

      Indonesia memiliki beragam buah-buahan lokal yang bernilai gizi baik bagi kesehatan, mulai dari pisang, jambu, apel, dan sebagainya. Namun dalam kenyataannya, masyarakat Indonesia tergolong minim mengonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran. Menurut data dari Balai Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian pada tahun 2011, diketahui bahwa konsumsi buah-buahan masyarakat Indonesia hanya 34,55 kg/kapita/tahun. Sedangkan konsumsi sayuran sebagai salah satu sumber serat bagi kesehatan, selain buah, di Indonesia hanya 40,35 kg/kapita/tahun. Data lainnya menunjukkan Indonesia adalah negara konsumsi buah terendah di regional Asia.  Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan pada tahun 2013 menyatakan bahwa sekitar 93% anak di atas 10 tahun mengalami kekurangan konsumsi buah dan sayur. Data tersebut terkumpul sejak 2007 hingga 2013 dari seluruh dari provinsi di Indonesia. Padahal berbagai himbauan konsumsi buah sebenarnya sudah ada dan berulang kali disampaikan kepada masyarakat, termasuk rekomendasi mengonsumsi buah. Namun ternyata berbagai rekomendasi ini masih belum mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi buah dan sayur setiap hari.

      Kurangnya konsumsi buah dan sayur yang merupakan penyuplai utama dari serat dan mikronutrien seperti vitamin, mineral, dan beberapa enzim yang membantu pencernaan. Penelitian yang dirilis dalam Medicine Journal 2016 menyebutkan bahwa semakin tinggi konsumsi buah per hari dapat menurunkan rasio risiko kematian dari berbagai sebab seperti penyakit kardiovaskular, koroner, iskemik, dan stroke. Untuk itu diperlukan upaya yang lebih untuk meningkatkan konsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan yang tidak hanya berupa penyediaan sarana dan prasarana, tetapi juga upaya perubahan sikap dan perilaku masyarakat, melalui sosialisasi atau penyuluhan dan promosi yang lebih intensif pada masyarakat tentang manfaat dari konsumsi dari sayur-sayuran dan buah-buahan. Oleh karena itu, sebagai generasi muda yang memiliki peran sebagai agent of change diharapkan dapat menuangkan ide, gagasan, dan inovasi dalam menyelesaikan permasalahan yang ada di sekitar, terutama masalah yang terkait dengan kesehatan, khususnya di bidang gizi. NUTRITION COMPETITION 2017 yang merupakan program kerja dari divisi pendidikan dan profesi FORMAZI FKM UNHAS hadir sebagai wadah bagi para generasi muda untuk menyalurkan ide terbaiknya dalam upaya menyelesaikan permasalahan tersebut.

Guideline NC 2017:

Nutrition Competition 2017

FORMAZI POSTER 2017

Hari Gizi Nasional di Indonesia diperingati setiap tahunnya pada tanggal 25 Januari. Pentingnya Gizi dalam kehidupan sudah diperkenalkan oleh Bapak Gizi Indonesia almarhum Prof. Poorwo Soedarmo sejak awal Kemerdekaan. Beliau kala itu diangkat oleh Menteri Kesehatan Dokter J Leimena untuk mengepalai Lembaga Makanan Rakyat (LMR). Waktu itu lebih dikenal sebagai Instituut voor Volksvoeding (IVV) yang merupakan bagian dari Lembaga Penelitian Kesehatan yang dikenal sebagai Lembaga Eijckman. Hari Gizi Nasional pertama kali diadakan oleh Lembaga Makanan Rakyat (LMR) pada pertengahan tahun 1960-an, kemudian dilanjutkan oleh Direktorat Gizi pada tahun 1970-an hingga sekarang. Kegiatan ini diselenggarakan untuk memperingati dimulainya pengkaderan tenaga gizi Indonesia dengan berdirinya Sekolah Juru Penerang Makanan tanggal 26 Januari 1951. Sejak saat itulah pendidikan tenaga gizi terus berkembang pesat di banyak perguruan tinggi di Indonesia. Kemudian disepakati bahwa tanggal 25 Januari di peringati sebagai Hari Gizi Nasional Indonesia.

       Hari Gizi bukan hanya sebuah seremonial belaka, namun harus menjadi momen untuk meneropong kenyataan masalah malnutrisi di lapangan dan melakukan strategi penyelesaian yang terpadu dan menyeluruh di semua area. Karena sampai saat ini masih ada beberapa kasus meninggal terhadap balita penderita gizi buruk di hampir semua wilayah di Indonesia. Hal ini menjadi pertanda masih kurang perhatiannya pemerintah dan masyarakat akan masalah ini. Bahayanya kasus ini dapat mengakibatkan suramnya masa depan anak-anak bangsa generasi penerus, bahkan terburuk kita bisa kehilangan satu generasi harapan karena kasus kematian yang semakin berkembang. Kasus gizi buruk ini juga dapat mengakibatkan balita yang menderita dapat menjadi seseorang yang kelainan mental atau IQ yang dibawah rata-rata pada saat dewasa nanti. Jelas hal ini tidak bisa menjadi gambaran ideal masa depan bangsa. Kita beruntung karena tinggal di tanah yang subur dan menghasilkan makanan yang sehat. Oleh karena itu, kita harus pintar-pintar mengkombinasikan makanan mulai dari sayur-sayuran hingga buah-buahan dari alam sekitar untuk kita dan anak-anak kita, guna memenuhi kebutuhan gizi seimbang.

       Untuk memeriahkan Hari Gizi Nasional 2017 yang diperingati setiap tahunnya pada tanggal 25 Januari itu, Forum Mahasiswa Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar menggelar acara FOPOST 2017. FOPOST 2017 merupakan lomba poster yang diadakan oleh FORMAZI FKM UNHAS untuk lebih memperkenalkan gizi kepada khayalak luas.

Guideline FOPOST 2017 dan Logo FORMAZI:

fopost-guideline

logo-formazi

Hari PPOK 2016

Kenali Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)

      Penyakit paru obstruktif kronik atau Chronic Obstructive Pulmonary Disease merupakan rangkaian penyakit paru yang ditandai dengan keterbatasan aliran udara yang tid ak sepenuhnya reversible. PPOK terdiri atas 3 kesatuan yaitu bronkitis kronik didefinisikan menurut gejala klinisnya, emfisema paru menurut ppok-atau-copdpatologi anatominya, sedangkan asma menurut patofisiologi klinisnya.

  1. Asma

           Asma merupakan Keadaan yang menunjukkan respons abnormal saluran napas terhadap berbagai rangsangan yang menyebabkan penyempitan jalan napas yang meluas. Penyempitan jalan napas disebabkan oleh bronkospasme, edema mukosa, dan hipersekresi mukus yang kental. Asma dapat dibagi dalam tiga kategori yaitu asma ekstrinsik atau alergik yang disebabkan oleh kepekaan individu terhadap alergan, asma intrinsik atau idiopatik ditandai dengan sering ditemukannya faktor nonspesifik seperti flu biasa, latihan fisik, asthmatic-airway-shutterstockatau emosi, serta serta asma campuran yang terdiri dari komponen-komponen asma ekstrinsik dan intrinsik.

  1. Bronkitis Kronik dan Emfisema

      Bronkitis kronik adalah hipertrofi kelenjar mukosa bronkus dan peningkatan jumlah dan ukuran sel-sel goblet, dengan infiltrasi sel-sel radang dan edema mukosa bronkus. Emfisema menunjukkan adanya abnormalitas, pembesaran permanen pada saluran udara bagian bawah sampai bronkhiolus terminal dengan kerusakan pada dinding dan tanpa fibrosis yang nyata. Ada dua bentuk emfisema yang paling penting sehubungan dengan PPOK yaitu, emfisema sentrilobular (CLE) yang menyerang bagian respiratorius dan duktus alpenderita-bronkitis50516587_mveolaris. Dinding-dinding mulai berubang, membesar, bergabung dan akhirnya cenderung menjadi satu ruang sewaktu dinding-dinding mengalami int  egrasi, serta emfisema panlobular (PLE) menyerang bagian asinus yang sentral maupun yang perifer, dimana alveolus yang terletak distal dari bronkiolus terminalis mengalami pembesaran serta kerusakan secara merata.

      Perjalanan klinis penderita PPOK terbentang mulai dari pink puffers sampai blue bloaters, yang berlangsung lama, dimulai dari usia 20-30 tahun dengan batuk merokok atau batuk pagi disertai dengan pembentukan sedikit sputum mukoid, serta infeksi pernapasan ringan yang cenderung berlangsung lebih lama dari biasanya. Tanda klinis utama pada pink puffers (berkaitan dengan PLE) adalah timbulnya dispnea (napas pendek yang abnormal) disertai batuk dan produksi sputum yang berarti. Biasanya dispnea mulai timbul antara usia 30 sampai 40 tahun dan semakin lama semakin berat. Pada keadaan PPOK pasien blue bloaters (bronkitis tanpa bukti-bukti emfisema obstruktif), biasanya menderita batuk produktif dan berulang kali mengalami infeksi pernapasan yang dapat berlangsung selama bertahun-tahun sebleum tampak gangguan fungsi, akhirnya timbul gejala dispnea pada waktu pasien melakukan kegiatan fisik. Pengobatan PPOK mencakup berhenti merokok, antibiotik untuk infeksi pernapasan bagian atas, vaksin influenza dan pneumokokal profilaktik, obat-obat bronkodilator untuk meringkan bronkospasme, hidrasi, fisioterapi dada, latihan pernapasan, aliran rendah O2 yang terus menerus, dan program olahraga. Terapi peningkatan α1-antitripsin serta terapi reduski volume paru untuk pasien dengan defisiensi herediter masih bersifat eksperimental.

Daftar Pustaka:

Price, Sylvia A. dan Lorraine M. Wilson. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-prose Penyakit Edisi 6 Volume 1. Jakarta: EGC.

Hari Diabetes Sedunia 2016

img_7622


       World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa diabetes adalah penyakit kronis yang terjadi ketika  pankreas tidak menghasilkan cukup insulin (hormon yang mengatur gula darah) atau alternative, ketika tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan  insulin yang dihasilkan. Keseluruhan risiko kematian antara orang-orang dengan diabetes adalah setidaknya dua kali lipat risiko rekan-rekan mereka tanpa diabetes. Diabetes juga cacat dalam kemampuan tubuh untuk mengubah glukosa (gula) menjadi energi. Glukosa adalah sumber utama bahan bakar bagi tubuh kita.  Ketika makanan dicerna itu berubah menjadi lemak, protein, atau karbohidrat. Makanan yang mempengaruhi gula darah disebut karbohidrat. Karbohidrat, ketika dicerna, berubah menjadi glukosa (WHO, 2010). Berdasarkan proyeksi World Health Organization, diperkirakan bahwa dalam kurun waktu 30 tahun (1995-2025), jumlah penderita diabetes di negara berkembang akan meningkat sebesar 170 %. Dari persentase tersebut, jumlah penderita diabetes di Indonesia akan meningkat dari 5 juta penderita menjadi 12 juta penderita yang akan termasuk dalam daftar 10 negara dengan jumlah penderita diabetes terbesar (Healthy Choice, 2002).

       World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa Indonesia menempati urutan keenam di dunia sebagai negara dengan jumlah penderita diabetes mellitus-nya terbanyak setelah India, China, Uni Soviet, Jepang, dan Brasil. Tercatat pada tahun 1995, jumlah penderita diabetes di Indonesia mencapai 5 juta dengan peningkatan sebanyak 230.000 pasien diabetes per tahunnya, sehingga pada tahun 2005 diperkirakan akan mencapai 12 juta penderita. Kenaikan ini antara lain karena usia harapan hidup semakin meningkat, diet kurang sehat, kegemukan, gaya hidup modern (Hasnah, 2009). Pada individu dengan diabetes, proses ini terganggu. Diabetes terjadi ketika pankreas gagal untuk menghasilkan jumlah yang cukup insulin – diabetes tipe 1 atau insulin yang dihasilkan rusak dan tidak dapat memindahkan glukosa ke dalam sel – diabetes tipe 2. Entah insulin tidak diproduksi dalam jumlah yang cukup atau insulin yang dihasilkan rusak dan tidak dapat memindahkan glukosa ke dalam sel. Ada dua jenis utama diabetes (DRWF US, 2016):

  1. Diabetes tipe 1 yang paling sering terjadi pada anak-anak dan dewasa muda, meskipun dapat terjadi pada semua usia. Diabetes tipe 1 ac- jumlah 5-10% dari semua diabetes di     Amerika Serikat. Ada tidak muncul untuk menjadi komponen genetik untuk diabetes tipe 1, tetapi Penyebab belum diidentifikasi.
  2. Diabetes tipe 2 adalah jauh lebih umum dan menyumbang 90-95% dari semua diabetes. Diabetes tipe 2 terutama mempengaruhi orang dewasa, namun baru-baru tipe 2 telah mulai mengembangkan pada anak-anak. Ada korelasi yang kuat antara diabetes tipe 2, aktivitas fisik dan  kegemukan.

Bagaimana diabetes didiagnosis?  

       Diagnosis diabetes dibuat dengan tes darah sederhana mengukur kadar glukosa darah.  Biasanya tes ini diulang pada hari berikutnya untuk mengkonfirmasikan diagnosis.  Diagnosis diabetes adalah pengalaman menakutkan dan membingungkan karena ada begitu banyak informasi untuk mengambil dan diagnosis mungkin datang sebagai kejutan. Orang dengan diabetes tipe 2 mungkin mendengar kondisi mereka digambarkan sebagai “ringan,” tapi diabetes tipe 2 tidak “ringan” kondisi medis. Kedua bentuk dan semua tahapan diabetes serius, dengan banyak komplikasi yang mungkin, termasuk mata, jantung, ginjal, dan kerusakan saraf (DRWF US, 2016).

Pencegahan

       Tanpa tindakan segera, kematian terkait diabetes akan meningkat lebih dari 50% dalam 10 tahun. Untuk membantu mencegah diabetes 2 dan jenisnya komplikasi, orang harus (WHO, 2010):

  1. Meminta rujukan untuk pendidik diabetes bersertifikat dan / atau ahli gizi.
  2. Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sehat.
  3. Jadilah aktif secara fisik – setidaknya 30 menit teratur, intensitas sedang aktivitas di sebagian besar hari.
  4. Diagnosis dini dapat dilakukan melalui tes darah relatif murah.
  5. Pengobatan diabetes melibatkan darah menurunkan gula dan kadar risiko yang diketahui lainnya faktor yang merusak pembuluh darah.
  6. Tembakau penghentian juga penting untuk menghindari komplikasi.

Pengendalian diabetes

  1. Orang dengan diabetes tipe 1 membutuhkan insulin; orang dengan diabetes tipe 2 dapat diobati dengan obat oral, tetapi juga mungkin memerlukan insulin.
  2. Kontrol tekanan darah
  3. Perawatan kaki

Intervensi penghematan biaya lainnya termasuk:

  1. Skrining dan pengobatan untuk retinopati (yang menyebabkan kebutaan);
  2. Kontrol lipid darah (untuk mengatur kolesterol tingkat);
  3. Skrining untuk tanda-tanda awal diabetes terkait penyakit ginjal dan pengobatan. Langkah-langkah ini harus didukung oleh diet sehat, aktivitas fisik secara teratur, pemeliharaan berat badan yang normal dan menghindari merokok.

DAFTAR PUSTAKA

Diabetes Research Wellness Foundation, 2016. All rights reserved.5151 Wisconsin Ave. NW, Suite 420 • Washington, D.C.

Healthy Choice. 2002. Insulin Serat Makanan Istimewa (Edisi I). Jakarta: Majalah Healthy Choice.

Hasnah, 2009. Pencegahan Penyakit Diabetes Mellitus Tipe 2. Media Gizi Pangan, Vol. VII, Edisi 1.

World Health Organization, 2010. Diabetes.

 

Hari Kesehatan Nasional

img_7624

    Apa yang membuat seseorang sehat? Salah satu cara yang menarik untuk mendekati pertanyaan ini adalah untuk pertama mengidentifikasi apakah atau tidak orang tersebut bahagia. Dilaporkan sendiri kepuasan hidup yang tinggi telah terbukti untuk memprediksi kinerja kekebalan tubuh yang lebih kuat, fungsi kardiovaskular yang lebih baik, kurang kerentanan terhadap stres kronis, dan bahkan hidup lebih lama. Selain itu, berbagai macam baik longitudinal dan eksperimental studi menunjukkan hubungan antara kebahagiaan dan kesehatan, atas dan di luar perbedaan demografi, keadaan hidup,  dan kebugaran dasar seseorang. Tidak mengherankan, orang lebih bahagia adalah orang-orang sehat (Chopik & Ed, 2016).  Memperpanjang asosiasi satu langkah lebih jauh dengan mengeksplorasi konteks interpersonal hubungan sonal. Untuk lebih baik dan lebih buruk, kehidupan sehari-hari pasti  melibatkan kehadiran orang lain, dan karenanya seseorang kesehatan sendiri dan kebahagiaan tidak bisa eksis dalam ruang hampa. Penelitian terbaru tentang penularan sosial mengungkapkan bahwa individu kesejahteraan sangat asimilasi dengan kesejahteraan rekan-rekan nya. orang melaporkan mood yang lebih baik, kebahagiaan yang lebih besar, dan kepuasan hidup lebih tinggi bila dikelilingi oleh orang lain yang juga merasa positif, bahagia, dan puas. Demikian pula, orang lebih sehat secara fisik dan menikmati lebih baik kesehatan fisik ketika mereka terletak dalam fit dan sehat sosial jaringan (Chopik & Ed, 2016).

       Upaya pemantauan kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan anak serta penanganannya dilakukan di berbagai tingkatan. Salah satunya upaya berbasis masyarakat yang diselenggarakan melalui Posyandu. Hingga saat ini, keberadaan Posyandu yang mencapai jumlah sekitar 269.000 mampu mendukung dan memberikan kontribusi besar dalam pencapaian tujuan Pembangunan Nasional, tambahnya. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2010, jumlah Balita yang dipantau melalui penimbangan di Posyandu terus meningkat hingga mencapai 75 persen, jelas dr.Krishna. Dr. Krishna menjelaskan, Kementerian Kesehatan telah berupaya melakukan pembinaan untuk menjamin kesinambungan pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak disetiap tingkat pelayanan. Sejak tahun lalu, Kemkes telah mencetak Buku KIA untuk seluruh sasaran ibu hamil dan didistribusikan sampai ke tingkat kabupaten/kota. Buku KIA, penting sebagai alat pencatatan sekaligus sumber informasi bagi keluarga tentang perawatan kesehatan bagi ibu dan anak (Chopik & Ed, 2016).

       Mencapai potensi penuh kesehatan tidak hanya bergantung pada penyediaan layanan kesehatan. Dalam rangka meningkatkan kesehatan peluang, faktor-faktor penentu kesehatan – yaitu, sosial, ekonomi, faktor lingkungan dan budaya yang mempengaruhi kesehatan – harus diperhitungkan. Ini berarti bahwa berbeda sektor, profesi dan masyarakat perlu menyepakati apa yang harus dicapai dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Ini akan menjadi penting untuk memahami setiap perspektif lain jika kita ingin bekerja dengan cara yang saling melengkapi. Kita perlu membangun aliansi dari tanah ke atas dan bekerja departemen di seluruh di tingkat pemerintah dalam pengembangan kebijakan kesehatan masyarakat (Roin, 2003). Dalam Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat, dimana MDGs yang belum tercapai ditambah tantangan agenda pembangunan pasca-2015 dengan angka kematian, kemiskinan dan kesakitan yang diperkirakan untuk menurun. Serta, implementasi JKN yang akan meningkatkan akses pelayanan, dimana pelayanan yang tersutruktur dan efisien serta efektif. Dalam program Indonesia sehat ada tiga aspek yang dicanangkan yakni paradigma sehat, program pengarusutamaan kesehatan dalam pembangunan, promotif dan preventif sebagai pilar utama upaya kesehatan serta pemberdayaan masyarakat. Aspek kedua, penguatan yankes, program peningkatan akses terutama pada FKTP, optimalisasi sistem rujukan dan peningkatan mutu. Aspek ketiga yaitu JKN, program benefit, sistem pembiayaan, kendali mutu dan kendali biaya serta sasaran FBI dan Non FBI (Farid, 2015).

       Di penghujung abad lalu, Indonesia mengalami perubahan besar yaitu prosesreformasi ekonomi dan demokratisasi dalam bidang politik. Tidak begitu lamakemudian, tepatnya pada tahun 2000, para pimpinan dunia bertemu di New York dan menandatangani “Deklarasi Milennium” yang berisi komitmen untuk mempercepat pembangunan manusia dan pemberantasan kemiskinan. Komitmentersebut diterjemahkan menjadi beberapa tujuan dan target yang dikenal sebagai Millennium Development Goals (MDGs). Pencapaian sasaran MDGs menjadisalah satu prioritas utama bangsa Indonesia. Pencapaian tujuan dan target tersebutbukanlah semata-mata tugas pemerintah tetapi merupakan tugas seluruhkomponen bangsa (Bappenas, 2008).  Tujuan pembangunan milenium merupakan agenda serius untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan tingkat kehidupan yang disetujui oleh parapemimpin dunia pada  Millennium Summit  (pertemuan tingkat tinggi Millenium) pada bulan September 2000.  Dalam mencapai sasaran pembangunan milenium (millennium development goals/MDGs) yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pemerintah Indonesia, berbeda dengan Indonesia Sehat 2010, sasaran MDGs ada indikatornya serta kapan harus dicapai. Sasaran MDGs ini bisa dijadikan slogan “IndonesiaSehat di tahun 2015” sebagai pengganti slogan sebelumnya. Dalam visi ini Indonesia mempunyai delapan sasaran MDGs salah satunya yaitu mengurangiangka kematian bayi dan ibu pada saat persalinan. Maksud dari visi tersebut yaitu kehamilan dan persalinan di Indonesia berlangsung aman serta bayi yang akan dilahirkan hidup sehat, dengan misinya menurunkan kesakitan dan kematian maternal dan neonatal melalui pemantapan sistem kesehatan di dalam menghadapi persalinan yang aman.

DAFTAR PUSTAKA

Chopik & Ed, 2016. Happy You, Healthy Me? Having A Happy Partner Is Independently Associated With Better Health In Oneself. Online First Publication, Vol 19.

Farid, N., 2015. Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat. Menteri Kesehatan Republik Indonesia.

Roinn, A., 2003. Strengthening The Nursing Contribution to Public Health. Departement of Health, Social Survices and Public Safety.

 

GIZI PEDULI INDONESIA 2016

gizi-peduli-indonesia

ILMAGI (Ikatan Lembaga Mahasiswa Gizi Indonesia) merupakan organisasi nasional yang menghimpun mahasiswa gizi di seluruh Indonesia. Ada 24 universitas yang bergabung atau menjadi anggota dari ILMAGI. ILMAGI memiliki kegiatan-kegiatan nasional yang tiap tahunnya diselenggarakan, salah satunya adalah GPI (Gizi Peduli Indonesia), GPI tahun 2016 diselenggarakan di Desa Ujung Bulu Kec. Rumbia Kab. Jeneponto Sul-Sel dengan tema “Kolaborasi Masyarakan dan Lingkungan dalam Pemanfaatan Pangan Lokal Menuju Anak Indonesia Tanpa Stunting”, yang dimana Forum Mahasiswa Gizi (FORMAZI) FKM Unhas menjadi panitia penyelenggara.

       GPI yang diadakan dari tanggal 7-9 Oktober 2016 terlaksana berkat kerja sama dengan Community Development Yayasan Hadji Kalla. Dari 24 universitas yang bergabung di ILMAGI ada 12 universitas di Indonesia yang mengirimkan delegasi untuk mengikuti kegiatan GPI ini, diantaranya Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, Universitas Diponegoro, Universitas Darussalam Gontor, Stikes Borneo, Universitas Dr. Hamka, Universitas  Kristen Satya Wacana, Stikes Binawan, Stikes Surabaya, Universitas Airlangga, dan Universitas Hasanuddin tentunya.

       Kegiatan-kegiatan GPI 2016, antara lain:

  1. Penyuluhan
  • Penyuluhan di Sekolah Dasar

    Penyuluhan gizi seimbang dan praktek hidup bersih dan sehat diselenggarakan di empat SD diantaranya SD No. 72 Kambutta Toa, SDN No. 245 Biring Romang, SDN No. 45a, dan SD Inpres Balewang. Penyuluhan ini sangat disambut baik oleh pihak sekolah, baik kepala sekolah, guru-guru maupun siswanya. Setiap sekolah yang kami kunjungi ada sekitar 30-50 siswa yang mengikuti penyuluhan yang kami lakukan, teman-teman delegasi dan panitia GPI yang bertugas memberikan penyuluhan di sekolah dasar, menghitung IMT serta melakukan demo praktek cuci tangan yang bersih dan benar sesuai pedoman PHBS. Penyuluhan kita lakukan ke sekolah dasar karna kita ingin menanamkan dari dini bahwa gizi itu penting dan harus dibiasakan, begitupun perilaku hidup bersih dan sehat.

  • Penyuluhan di Masyarakat Umum

    Penyuluhan umum yang kami lakukan yaitu gizi seimbang, pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan, demo pembuatan PMT dan MP-ASI menggunakan pangan lokal. Penyuluhan ini berlangsung di halaman rumah Pak Desa Ujung Bulu dan masyarakat yang mengikuti penyuluhan ini ± 100 orang dan mayoritas ibu-ibu. Penyuluhan ini dibuka oleh Kepala Puskesmas Tompobulu dan dilanjutkan sambutan-sambutan dari Kepala Desa Ujung Bulu Kec. Rumbia Kab. Jeneponto, Ketua FORMAZI FKM Unhas dan Sekjend ILMAGI. Teman-teman delegasi berkolaborasi satu sama lain dalam menyampaikan  penyuluhan ini.

  1. Siaga Bencana Gizi

      Siaga Bencana Gizi (SiGi) merupakan program kerja dari ILMAGI yang penyelenggaraannya selalu diikutkan pada kegiatan GPI. SiGi ini diperuntukkan untuk mahasiswa gizi agar pengetahuan akan peran orang gizi ketika ada bencana apa saja dan apa yang harus dipersiapakan bertambah. Peserta SiGi ada 38 orang dari 12 universitas yang mengirimkan delegasi. SiGi dibagi menjadi dua bagian, pertama SiGi teori yaitu pemberian materi tentang peran dan apa saja yang dipersiapakan ketika ada bencana dan kedua SiGi simulasi yaitu SiGi teori yang telah didapatkan sebelumnya kita simulasikan. Simulasi yang dilakukan adalah 38 orang dibagi menjadi 3 kelompok  yaitu korban, ahli gizi, dan tim masak. Pada simulasi ini ahli gizi berperan memeriksa kedaan korban dan membuat resep  dari hasil surveilans korban, yang kemudian resep tersebut diberikan kepada tim masak untuk membuatkan si korban menu makanan yang sesuai kebutuhannya dengan merujuk hasil surveilans.

  1. Pemeriksaan Kesehatan

      Pemeriksaan Kesehatan dilakukan di halaman rumahKepala Desa dan dihadiri ± 50 orang. Petugas puskesmas Tompobulu ikut membantu pemeriksaan kesehatan, kolaborasi delegasi dan petugas puskesmas sangat baik dalam pengukuran IMT yng ditinjau dari BB dan TB, tekanan darah, golongan darah, hemoglobin, serta konsultasi gizi.  Pemeriksaan kesehatan ini dilakukan untuk membantu masyarakat agar dapat mengetahui status kesehatannya sehingga mereka akan lebih memperhatikan kesehatannya. Pemeriksaan kesehatan ini merupakan suatu bentuk pengabdian kepada masyarakat oleh petugas kesehatan termasuk di dalamnya ahli gizi demi meningkatkan status kesehatan masyarakat tersebut.

     Gizi Peduli Indonesia merupakan salah satu wadah bagi mahasiswa gizi seluruh indonesia untuk mewujudkan salah satu dari tri dharma perguruan tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat dimana di dalam gizi peduli indonesia ini seluruh mahasiswa gizi dapat berkumpul, berkolaborasi dalam satu tempat dan sama-sama bekerja memberikan pelayanan serta mengaplikasikan ilmu yang telah mereka dapatkan di bangku perkuliahan kepada masyarakat. Diharapkan dari kegiatan gizi peduli indonesia ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat terutama yaitu masyarakat dapat menyadari bahwa gizi yang baik adalah salah satu faktor utama untuk mewujudkan suatu bangsa yang sehat dan berprestasi.

#Spirit….FORMAZI Berkreasi

#ILMAGI….Change For Better

 

Hari Jantung Sedunia

       Jantung ialah organ tubuh yang sangat penting untuk dijaga kesehatannya, karena begitu penting fungsi jantung untuk tubuh manusia. Penyakit jantung sangat sulit untuk dideteksi, sehingga menyebabkan banyak orang yang meninggal dunia secara mendadak tanpa disadari jika seseorang mengidap penyakit jantung atau terkena serangan jantung. Mitos yang beredar di sebagian besar masyarakat Indonesia ialah penyakit jantung jarang ditemui, tidak perlumelakukan cek kesehatan apabila tidak merasakan apapun, dan penyakit jantung ialah penyakitnya para orang kaya dan yang sudah tua renta. Fakta yang terjadi sebenarnya ialah bahwa penyakit jantung dan kardiovaskular menjadi peringkat pertama penyebab kematian di beberapa negara termasuk di Indonesia.

       Di Indonesia penyakit jantung dan pembuluh darah terus meningkat dan akan memberikan beban kesakitan, kecacatan dan beban sosial ekonomi bagi keluarga penderita, masyarakat, dan negara. Prevalensi penyakit jantung koroner di Indonesia tahun 2013 berdasarkan diagnosis dokter sebesar 0,5%, sedangkan untuk gejalanya sebesar 1,5%. Penyakit jantung dan pembuluh darah merupakan salah satu masalah kesehatan utama di negara maju maupun berkembang, penyakit ini menjadi penyebab nomor satu kematian di dunia setiap tahunnya. Pada tahun 2008 diperkirakan sebanyak 17,3 juta kematian disebabkan oleh penyakit kardiovaskular. Lebih dari 3 juta kematian tersebut terjadi sebelum usia 60 tahun. Terjadinya kematian dini yang disebabkan oleh penyakit jantung berkisar sebesar 4% di negara berpenghasilan tinggi, dan 42% terjadi di negara berpenghasilan rendah. Kematian yang disebabkan oleh penyakit jantung pembuluh darah, terutama penyakit jantung koroner dan stroke diperkirakan akan terus meningkat mencapai 23,3 juta kematian pada tahun 2030.

       Ada berbagai macam jenis penyakit jantung, salah satu penyakit jantung yang berbahaya ialah penyakit jantung koroner (PJK). Gejala penyakit jantung sebenarnya bervariasi tetapi yang paling sering terjadi adalah “nyeri dada”. Penyakit jantung koroner adalah sebuah penyakit yang terjadi akibat hasil tersumbatnya atau penyempitan pembuluh darah arteri koroner. Seperti yang diketahui pembuluh darah arteri koroner berfungsi untuk mengaliran darah dengan membawa sari-sari makanan maupun oksigen yang sangat dibutuhkan oleh otot jantung agar bisa berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh. Dari penelitian yang dilakukan Kurniadi (2013) pada laki-laki akan mulai beresiko mengalami penyakit jantung pada umur 45 tahun, sedangkan pada wanita umur 55 tahun. Presentasi hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa 50% dari laki-laki dan 64% dari wanita yang meninggal karena penyakit jantung, dan tidak pernah mengalami gejala apapun sebelumnya atau merasa baik-baik saja.

       Penyakit jantung koroner telah menjadi penyebab kematian utama di Indonesia. Banyak

orang terkena serangan jantung tanpa ada gejala apapun sebelumnya. Selama 50 tahun terakhir, semakin banyak orang terkena penyakit jantung koroner, dan beberapa faktor penyebab utamanya telah diketahui. Penyakit jantung koroner diperkirakan 30% menjadi penyebab kematian di seluruh dunia.

       Menurut WHO tahun 2005, jumlah kematian penyakit kardiovaskular (terutama penyakit jantung koroner, stroke, dan penyakit jantung rematik) meningkat secara global menjadi 17,5 juta dari 14,4 juta pada tahun 1990. Berdasarkan jumlah tersebut, 7,6 juta dikaitkan dengan penyakit jantung koroner. American Heart Association (AHA) pada tahun 2004 memperkirakan prevalensi penyakit jantung koroner di Amerika Serikat sekitar 13.200.000.

       Penderita PJK banyak didapatkan adanya faktor – faktor risiko. Faktor risiko utama atau

fundamental yaitu faktor risiko lipida yang meliputi kadar kolesterol dan trigliserida, karena pentingnya sifat – sifat substansi ini dalam mendorong timbulnya plak di arteri koroner.Negara Amerika pada saat ini 50% orang dewasa didapatkan kadar kolesterolnya > 200 mg/dl dan ± 25% dari orang dewasa umur > 20 tahun dengan kadar kolesterol > 240 mg/dl, sehingga risiko terhadap penyakit jantung koroner akan meningkat. Penderita penyakit jantung koroner akan mengalami hipertensi 2,25 kali dibanding dengan yang bukan penderita penyakit jantung koroner.Berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan adanya keadaan-keadaan sifat dan kelainan yang dapat mempercepat terjadinya penyakit jantung koroner.Memiliki faktor risiko lebih dari satu seperti hipertensi, diabetes melitus, dan obesitas, maka akan mempunyai 2 atau 3 kali berpeluang terkena penyakit jantung koroner dibandingkan 70 orang yang tidak.

DAFTAR PUSTAKA

Agustini, Mery. 2016.  Self-Efficacy Dan Makna Hidup Pada Penderita Penyakit Jantung Koroner. Volume 4 Nomor 4. Mahasiswa Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Zahrawardani, Diana, dkk,.2013. Analisis Faktor Risiko Kejadian Penyakit Jantung Koroner di RSUP Dr Kariadi Semarang. Volume 1 Nomor 2. Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Universitas Muhammadiyah, Semarang.

Hari Peduli Limfoma se-Dunia

  Apa itu Limfoma?

         Limfoma merupakan istilah umum untuk berbagai tipe kanker darah yang muncul dalam sistem limfatik, yang menyebabkan pembesaran kelenjar betah bening. Limfoma disebabkan oleh sel-sel limfosit B atau F, yaitu sel darah putih yang dalam keadaan normal/sehat menjaga daya tahan tubuh kita untuk menangkal infeksi bakteri, jamur, parasit, dan virus, menjadi abnormal dengan membelah lebih cepat dari sel biasa atau hidup lebih lama dari biasanya. Sistem limfatik sendiri merupakan jaringan pembuluh dengan katup dan kelenjar ditempat-tempat tertentu yang mengedarkan cairan getah bening melalui kontraksi otot yang berdekatan dengan kelenjar. Kelenjar getah bening menyaring benda asing dari getah bening dan juga mengangkut lemak yang diserap dari usus halus ke hati. Limfoma terbagi menjadi 2 (tipe) yaitu:

  1. Limfoma Hodgkin (HL)
  2. Limfoma Non-Hodgkin (NHL)

        Limfoma yang berhubungan dengan AIDS kadang kala disebut sebagai Limfoma Non-Hodgkin (NHL). Pada 1985, NHL dimasukkan pada daftar penyakit yang mendefinisi AIDS oleh Centers for Disease Control di AS. Penyakit Hodgkin, jenis limfoma lain, jarang ditemukan pada Odha. Semakin lama kita hidup dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, semakin tinggi risiko NHL. NHL dapat terjadi bahkan pada jumlah CD4 yang tinggi. NHL dapat gawat dan menimbulkan kematian, kadang-kadang dalam satu tahun.

       Penggunaan terapi antiretroviral (ART) mengurangi angka sebagian besar infeksi oportunistik kurang lebih 80%. Pada awal, penurunan ini tampaknya tidak berlaku untuk NHL. Namun penelitian baru menunjukkan kejadian NHL menurun 50%, terutama limfoma SSP. NHL masih menyebabkan kurang lebih 20% kematian pada Odha. Kurang lebih 10% Odha mungkin akhirnya akan mengembangkan NHL.

       Limfoma malignum non Hodgkin atau limfoma non Hodgkin adalah suatu keganasan primer jaringan limfoid yang bersifat padat. Lebih dari 45.000 pasien didiagnosis sebagai limfoma non Hodgkin (NHL) setiap tahun di Amerika Serikat. Limfoma non Hodgkin, khususnya limfoma susunan saraf pusat biasa ditemukan pada pasien dengan keadaan defisiensi imun dan yang mendapat obat-obat imunosupresif, seperti pada pasien dengan trans

        Anggapan pertama adalah bahwa status diferensiasi limfosit dapat dilihat dari ukuran dan konfigurasi intinya, sel-sel limfoid yang kecil dan bulat dianggap sebagai sel-sel yang berdiferensiasi baik, dan sel-sel limfoid kecil yang tidak beraturan bentuknya dianggap sebagai limfosit yang berdiferensiasi buruk. Anggapan kedua adalah sel-sel limfoid besar dengan inti vesikular dan mempunyai banyak sitoplasma yang biasanya berwarna pucat dianggap berasal dari golongan monosit makrofag (histiosit). Limfosit B mengandung imunoglobulin permukaan (surface immunoglobulins) yang dapat diwarnai dan menampilkan reseptor-reseptor untuk komplemen dan fraksi Fc dari imunoglobulin.

       Limfosit T tidak mempunyai imunoglobulin permukaan yang dapat diwarnai tetapi mempunyai kemampuan membentuk ikatan dengan sel-sel darah merah biri-biri. Dengan demikian limfosit B dan T dapat dikenal dan ditetapkan jumlahnya baik dalam darah tepi maupun dalam suspensi sel yang berasal dari jaringan limfoid. Pendekatan ini telah membuktikan bahwa sebagian besar NHL berasal dari sel B dan bahwa sel yang berproliferasi biasanya monoklonal.

Gejala-gejala Limfoma

Gejala utama yang dialami pengidap limfoma adalah tumbuhnya benjolan. Benjolan ini tidak terasa sakit dan umumnya muncul pada leher, ketiak, dan selangkangan.Selain benjolan, ada beberapa gejala yang mungkin dirasakan pengidap. Indikasi-indikasi tersebut biasanya meliputi:

  • Selalu merasa lelah.
  • Berkeringat pada malam hari.
  • Demam dan menggigil.
  • Sering mengalami infeksi atau infeksi yang sulit sembuh.
  • Gatal-gatal di seluruh tubuh.
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
  • Tidak nafsu makan.
  • Pembengkakan pada perut.
  • Sakit perut
  • Batuk yang tidak kunjung sembuh.
  • Gangguan pernapasan.
  • Sakit dada.

Penyebab Penyakit Limfoma

       NHL disebabkan oleh rangsangan jangka panjang pada sistem kekebalan tubuh. Jika sel-B menggandakan diri secara cepat selama bertahun-tahun, makin banyak mutasi atau perubahan terjadi pada sel ini. Beberapa mutasi ini dapat menyebabkan kanker. Kurang lebih 4% orang dengan gejala penyakit HIV mengalami NHL setiap tahun. Angka kejadian NHL pada Odha 80 kali lebih tinggi dibandingkan masyarakat umum.

       Risiko NHL ditingkatkan oleh infeksi dengan virus Epstein-Barr, dan oleh faktor genetis. Angka kejadian NHL dua kali lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan pada perempuan, dan di AS, dua kali lebih tinggi di antara orang berkulit putih dibandingkan orang asal Afrika dan Karibia. Pada saat ini, belum diketahui cara pencegahan NHL.

Langkah Pengobatan Limfoma

       Pengobatan limfoma bisa tidak sama bagi tiap pengidap. Dokter akan menentukan langkah yang terbaik untuk Anda berdasarkan kondisi kesehatan, jenis, dan stadium limfoma Anda.

      Khusus untuk limfoma non-Hodgkin, tidak semuanya membutuhkan penanganan medis secepatnya. Jika kanker yang Anda idap termasuk jenis yang lambat berkembang, dokter mungkin akan menyarankan untuk menunggu dan melihat perkembangannya terlebih dulu. Bahkan ada limfoma non-Hodgkin stadium dini dengan ukuran kecil yang dapat diatasi melalui prosedur pengangkatan pada saat biopsi sehingga pasien tidak membutuhkan penanganan lebih lanjut.

       Jika limfoma Anda membutuhkan pengobatan, langkah utama dalam menanganinya adalah kemoterapi. Kemoterapi dapat diberikan melalui infus atau obat minum. Jenis yang diberikan oleh dokter tergantung pada stadium kanker yang Anda derita. Terapi ini juga terkadang dikombinasikan dengan:

  • Radioterapi.
  • Obat-obatan steroid.
  • Terapi biologis, contohnya obat rituximab. Obat ini akan menempelkan diri pada sel-sel kanker lalu merangsang sistem kekebalan tubuh untuk menyerang dan membunuhnya.
  • Transplantasi sumsum tulang. Langkah ini dibutuhkan bagi penderita limfoma yang mengalami kerusakan sumsum tulang akibat kemoterapi dosis tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Rahma Kasir, Dian, dkk,. 2014. Hubungan Kadar Laktat Dehidrogenase dengan Stadium Limfoma Maligna Non Hodgkin di Rumah Sakit Dr. M. Djamil Padang periode Desember 2009 sampai Maret 2013. Vol 3 No 2. Jurnal Kesehatan Andalas.

Infodatin. 2015. Data dan kondisi Penyakit Limfoma Di Indonesia. Kementrian Kesehatan RI. Jakarta Selatan.

Yayasan Spiritia. 2013. Limfoma. Jl. Johar Baru Utara V No. 17, Jakarta

M, Santoso, dkk,. 2004. Diagnostik Dan Penatalaksanaan Limfoma Non Hodgkin. No. 4, Vol. 17. SMF Penyakit Dalam RSUD Koja. Departemen Penyakit Dalam FK UKRIDA. Jakarta

 

Pekan Peduli Hepatitis B

PEKAN PEDULI HEPATITIS B

Hepatitis B dan Pencegahannya

       Virus Hepatitis B (VHB) merupakan penyakit infeksi utama dunia yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, meskipun saat ini sudah tersedia vaksin yang efektif dalam bentuk pengobatan antivirus. Secara global dari dua milyar orang yang sudah terinfeksi, lebih dari 350 juta jiwa telah terinfeksi VHB kronis yang menyebabkan 1-2 juta jiwa kematian setiap tahun karena kanker hati. Infeksi VHB bervariasi menurut geografi, prevalensi VHB kronis mulai dari 1,2% sampai dengan 20%. Sekitar 40% dari populasi yang tinggal di daerah endemik, seperti Afrika dan Asia Pasifik (tidak termasuk Jepang, Australia dan New Zealand).

       World Health Organization (WHO) memperkirakan lebih 2 milyar penduduk dunia telah terinfeksi virus hepatitis B, dimana 378 juta atau 4,8% terinfeksi yang bersifat carier kronis dengan angka kematian 620,000 jiwa setiap tahun. Lebih dari 4,5 juta kasus infeksi baru virus hepatitis B terjadi setiap tahun, dan ¼ dari kejadian kasus tersebut berkembang menjadi penyakit hati sirosis hepatis dan karsinoma hepatoseluler primer.

       Berdasarkan tingginya prevalensi infeksi VHB, World Health Organization (WHO) membagi menjadi 3 macam daerah endemis yaitu: tinggi (10-15%), sedang (8%) dan rendah (5%). Sedangkan prevalensi VHB di negara-negara berkembang Indonesia (10%), Malaysia (5,3%), Brunai (6,1%), Thailand (8%-10%), Filipina (3,4%-7%). Berdasarkan data WHO (2008) penyakit Hepatitis B menjadi pembunuh nomor 10 di dunia dan endemis di China dan bagian lain di Asia termasuk Indonesia. Dua milyar penduduk dunia pernah terinfeksi oleh virus Hepatitis B, 400 juta jiwa pengidap Hepatitis kronik dan 250.000 orang setiap tahun meninggal akibat sirosis hati dan kanker hati, 170 juta penduduk dunia pengidap virus Hepatitis C (HVC) dan 350.000 orang meninggal akibat komplikasi dari Hepatitis C.

       Menurut Internasional Task Force on Hepatitis-B Immunization, Indonesia termasuk dalam kelompok endemis sedang dan tinggi hepatitis B, dengan prevalensi di populasi 7% -10%. Setidaknya 3,9% ibu hamil Indonesia merupakan pengidap hepatitis dengan risiko penularan maternal kurang lebih 45%. Saat ini di perkirakan terdapat lebih dari 11

juta pengidap penyakit Hepatitis-B di Indonesia. Di negara dengan prevalensi hepatitis B rendah sebagian besar pengidap berusia 20-40 tahun, sedangkan di negara dengan prevalensi hepatitis B tinggi sebagian besar pengidap merupakan anak-anak.

       Risiko terjadinya hepatitis B kronis jauh lebih besar (90%) bila infeksi terjadi pada awal kehidupan dibandingkan dengan infeksi yang terjadi pada usia dewasa. Sementara infeksi pada masa dewasa muda biasanya menimbulkan hepatitis yang akut secara klinis tetapi risiko menjadi kronik hanya 1% – 2 %.Transmisi vertikal tergantung dari umur kehamilan saat terinfeksi. Infeksi pada dua trimester pertama berisiko sebesar 8% – 10% dan meningkat secara bermakna pada trimester ketiga kehamilan sebesar 67%.

       Masa inkubasi dari penyakit hepatitis B berkisar antara 45-180 hari dan lama masa inkubasi tergantung pada jumlah virus yang masuk ke dalam tubuh dan cara penularan serta daya tahan pasien. Penyakit ini sering dijumpai pada 30-50% pada usia diatas 50 tahun dan 10% pada usia dibawah 50 tahun. Keluhan pada penyakit hepatitis B antara lain mual, tidak nafsu makan, lemas, muntah, nyeri pada otot dan sendi, demam, kencing berwarna cokelat tua dan kulit berwarna kuning. Kebanyakan kasus dengan infeksi hepatitis B akan sembuh dalam jangka waktu 6 bulan dan mengalami kekebalan. Dimana 15-20% akan menjadi hepaitits kronik atau penyakit hati menahun yang kemudian menjadi hepatitis kronik atau penyakit hati menahun yang kemudian menjadi sirosis hati dan berkembang menjadi kanker hati.

       Penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus hepatitis B (VHB) sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan dunia, karena dapat mengakibatkan penyakit hati serius mulai dari hepatitis fulminan sampai karsinoma hepatoselular. Diperkirakan sekitar 2 miliar penduduk dunia pernah terinfeksi virus hepatitis B, dan 360 juta orang sebagai pengidap (carier) HbsAg dan 220 juta (78%) diantaranya terdapat di Asia. Lima ratus ribu hingga 750 ribu orang diduga akan meninggal karena sirosis hepatis atau berkembang menjadi kanker hati.

       Angka kejadian (prevalensi) hepatitis B kronik di Indonesia mencapai hingga 5-10 % dari total penduduk, atau setara dengan 13,5 juta penderita. Jumlah ini membuat Indonesia termasuk daerah endemis sedang sampai tinggi (3-17%), dan menjadi negara ke 3 Asia yang penderita hepatitis B kroniknya paling banyak. Vaksinasi merupakan strategi paling efektif dan aman untuk mengendalikan serta eradikasi infeksi VHB. Indonesia telah melaksanakan pemberian vaksinasi hepatitis B secara rutin dalam Program Pengembangan Imunisasi (PPI) sejak tahun 1992.

       Berbagai cara telah digunakan untuk memotong rantai penularan dalam upaya menurunkan insidens infeksi VHB. Pencegahan penularan parenteral yang terpenting adalah  HbsAg pada darah pratransfusi, sterilisasi alat kedokteransecara virusidal, dan prinsip penggunaan satu alat steril untuk satu orang pada tindakan parental. Pada saat ini telah tersedia vaksin Hepatitis B yang immunogenik baik yang berasal dari plasma maupun yang dibuat dengan rekayasa genetika.

       Untuk mencegah terjadinya infeksi pada individu setelah terjadi kontak dengan VHB, diberikan gabungan imunisasi aktif menggunakan vaksin dan imunisasi pasif menggunakan HBIG (postexposure immunization). Secara umum program imunisasi Hepatitis B bertujuan menurunkan angka kematian yang disebabkan oleh infeksi VHB dan akibat lanjut darinya, dengan memberi kekebalan kepada bayi sedini mungkin.

Daftar Pustaka

Kusumawati, Laila, dkk,. 2007. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemberian Imunisasi Hepatitis B 0-7 Hari. Vol. 23, No. 1. Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie, Nanggroe Aceh Darussalam.

Rosalina, Ina. 2012. Hubungan Polimorfisme Gen Tlr 9 (Rs5743836) Dan Tlr 2 (Rs3804099 Dan Rs3804100) Dengan Pembentukan Anti-Hbs Pada Anak Pascavaksinasi Hepatitis B. Vol. 2 Nomor 3. Universitas Padjadjaran

Rasmaliah. 2005. Infeksi Virus Hepatitis B dan pencegahannya. Staf Pengajar Pendidikan Epidemiologi. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/48318/5/chapter%201.pdf

Repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/38097/5/chapter%201.pdf

Suharji, B. 2010. Hepatitis B. Yogyakarta: Kanisius